Berkaca dari Ayah, Tiada Hari Tanpa Membaca



Seorang anak yang ingin melampaui ayahnya

     Penulis sangat bersyukur karena memiliki seorang ayah sekaligus “pahlawan” yang berpengetahuan. Penulis sama sekali belum merasakan sifat mirip yang diturunkan ayah kepada anaknya terhadap pribadi penulis sendiri. Terutama dalam rasa keingintahuan yang besar dan layaknya rumput liar setelah ditebas namun tetap tumbuh lagi. Sulit menerima fakta bahwa "secuil" pun tidak ada kemiripan sifat.

     Kadang penulis heran dan termenung sendiri, bagaimana bisa sedikitpun sifat dari ayahnya yang sangat bermanfaat itu tidak terpatri dalam kehidupan sehari-hari penulis. Meski begitu, penulis tetaplah anak seorang ayah yang luar biasa dalam mengarungi kehidupan hingga sampai ia memiliki anak yang tidak ada kemiripan (dalam sifat), anak itu adalah penulis sendiri.

      Masa kecil penulis sejatinya seperti anak-anak lainnya yang berasal dari desa era tahun 2000 ke atas. Bermain, bermain, bermain dan tentu saja bermain lagi. Bisa dibilang masa kecil penulis juga jarang ditemani ayah-nya setiap saat, tentunya itu adalah kompensasi atas kesibukan beliau dengan status seorang kepala keluarga. Namun tiada kata lengah bagi beliau untuk memantau perkembangan anak-anaknya.

     Kembali pada penulis, masa kecil penulis sudah dijejali oleh ayahnya dengan buku-buku yang tentu saja tidak penulis pahami pada usia saat itu. Penulis bahkan hanya berusaha mengambil buku-buku koleksi ayahnya untuk dibawa pergi “agar” kemudian hilang atau harus menjadi “kanvas” menggambar apapun yang disenangi penulis. Dan faktanya kini penulis malah ingin kembali mengulang masa kecil agar bisa menyimpan dengan baik koleksi buku beliau untuk dibaca saat ini.

     Kiranya kita semua sadar untuk tak berharap banyak bahwa anak laki-laki usia 7 tahun bisa melakukan hal yang selalu tidak bertentangan dengan pola pikir orang dewasa. Namun ternyata perbuatan penulis saat masih kecil juga ada dampaknya saat ia mulai beranjak remaja. Penulis mulai menyukai bacaan, meski saat itu hanya terbatas pada satu genre saja, yaitu humor. Kebiasaan “kejam” yang penulis lakukan pada buku juga membuat penulis “diserang balik” oleh buku dengan cara “dipaksa” membacanya.


     Sebenarnya bisa dibilang sedikit dari masa kecil penulis buku sudah mendekati “gelar” teman mencari pengetahuan, masalahnya buku harus selalu memiliki gambar yang menarik perhatian penulis. Lagipula, saat itu penulis lebih tertarik untuk menggambar saja.

      Berangsur-angsur masa remaja penulis sudah mulai dipenuhi dengan bacaan-bacaan genre lain, walau kenyataanya penulis masih belum jatuh cinta pada bacaan sepenuhnya. Faktor ayah selalu menjadi yang utama bagi penulis untuk berusaha menekuni buku-buku, hanya  itu saja.

     Bicara masa remaja, pikiran penulis selalu tertuju pada tingkat SMA, karena di saat itulah usia penulis sepenuhnya menginjak masa remaja. Kebetulan saat itu penulis menemukan buku pinjaman dari teman ayahnya, salah satu serial Wiro Sableng yang sangat diminati dan berjaya pada masanya. Awalnya penulis iseng saja membaca, namun hanya karena kebetulan itu penulis benar-benar jatuh cinta dengan serial tersebut, yang artinya juga kecintaan pada buku.

     Kembali kepada ayah penulis, tentunya serial tersebut sudah terlebih dahulu dibaca oleh beliau. Penulis menyimpulkan bahwa ayahnya salah satu penikmat genre buku apa saja, tak hanya berkutat pada buku ilmu pengetahuan. Penulis juga menyadari sepenuhnya ketertinggalan penulis dalam mengarungi dunia buku yang “luas dan megah”.

    Berkaca dari ayah penulis yang selalu menjadikan buku-buku sebagai teman mencari ilmu sejak usia SD, sulit bagi penulis untuk menandingi beliau di usia remaja sekaligus masa SMA yang “liar”. Fakta yang mesti penulis syukuri adalah bahwa ayahnya selalu menekankan pentingnya membaca buku. Bahkan, daripada menghadiahi anak-anaknya sesuatu yang dapat membuat lengah, ayah penulis lebih menyukai anak-anaknya dihadiahi buku-buku.

    Penulis belum bisa dikatakan mencintai buku dengan sepenuhnya, ibarat pepatah ‘Hanya sekedar cinta, bukan mencintai”. Namun penulis berusaha menekankan kepada dirinya untuk selalu menambah ilmu, salah satunya melalui buku. Memang, kenyataannya ada semangat yang turun naik dalam membaca buku. Tapi sekali lagi berkaca pada ayah penulis yang motto-nya “Tiada Hari Tanpa Membaca” setidaknya dapat menjadi sebuah oasis tersendiri bagi penulis yang terlalu asyik berkelana di gurun kemalasan membaca buku.


IHD CCK – Sampai saat ini penulis masih belum dapat melampaui pengetahuan ayahnya, terutama mengatasi masalah kehidupan yang kompleks.

Ayah penulis memiliki majalah kesayangan, dulunya beliau hampir tak pernah absen membeli tiap bulan. Majalah itu dikenal dengan nama Sabili.

Quote : Hidup sederhana, bukan hidup miskin. - Mr. Anang Saimuri

0 Response to "Berkaca dari Ayah, Tiada Hari Tanpa Membaca"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel