AKU LEBIH SUKA BAHASA SEDERHANA
Aktivitas menulis tentu tidak terbatas hanya pada menulis buku atau karya tulis, menulis caption di sosmed, buku harian ataupun narasi iklan juga termasuk didalamnya. Namun tentu seringkali tulisan seseorang mempresentasikan tingkat pendidikan atau pengetahuannya, sehingga diperlukan pemahaman lebih untuk mencerna makna dari tulisannya.
Lalu bagaiamana dengan diriku? Aktivitas membaca yang telah dilakukan sejak SD membuatku memiliki banyak referensi bahasa yang digunakan dalam menulis, baik itu komik, cerpen, novel, buku pelajaran, buku terjemahan bahasa asing, ataupun buku seputar agama. Kemudian seiring bertambahnya usia aku juga sering membaca koran atau artikel online melalui situs web berita.
Begitu panjang perjalanan membaca yang aku lakukan hingga sampai saat ini, dan aku tidak ingin sendiri melakukan itu. Membaca salah satu bentuk tindakan kita yang ingin berpikiran maju, terbuka dan memiliki pengetahuan yang kompleks. Membaca jendela dunia bukanlah bualan semata, itu nyata.
Namun apakah aktivitas membaca selalu menyenangkan bagi orang banyak termasuk diriku? Tentu tidak. Aku sangat mengetahui hal itu, aku tetap ingat bagaimana dulu susah payahnya ayahku mengajak diriku membaca, juga bagaimana rasa jengkel ku karena terus dipaksa membaca. Mungkin samar-samar saat itu aku bermimpi tidak akan membuat aktivitas membaca terasa membosankan seperti yang dilakukan ayahku.
Jujur saja, sejak masih SD sampai sekarang aku selalu “disumpali” ayahku dengan bahasa asing berbelit ataupun padanan kata “zaman purba” yang lama-kelamaan aku jengkel mendengarnya. Yaaa walau ku akui hal itu menambah khazanah bahasa ku dalam bertutur kata sewaktu sekolah ataupun kuliah. Namun perlu diingat, aku tetap saja jengkel.
Tidak semua hal baik harus berawal dari hal baik juga, perkara buruk yang aku alami berupa “tonjokan” bahasa asing dan istilah purba yang dilempar ayahku berhasil ku tangkap lalu ku poles menjadi sesuatu yang menyenangkan, setidaknya bagi diriku sendiri. Apakah itu? Yep... sesuai judul artikel “AKU LEBIH SUKA BAHASA SEDERHANA”.
Bukan hanya sekedar judul, namun kalimat tersebut kini menjadi prinsip yang aku anut. Bagaimana membuat orang suka membaca tanpa dia sadari? Jawabannya “Bahasa yang disampaikan lugas, sederhana, mudah dipahami, juga diberi padanan/persamaan”. Simpelnya pakai bahasa sehari-hari, niscaya orang akan suka membacanya.
Sejak kuliah aku suka menulis opini melalui medsos ataupun sekedar caption/kutipan unggahan foto ataupun video. Biasanya topik yang aku komentari berkaitan dengan ilmu sosial dan politik, teknologi, fotografi, videografi, seputar kuliah, fenomena kenakalan remaja, ataupun beauty privilige (hak istimewa orang ganteng/cantik). Juga aku sangat menyukai meme yang jokesnya berkaitan dengan kritik sosial ataupun hanya sekedar penghibur galau karena masalah asmara.
Semua opini/pendapat aku tulis dengan bahasa sehari-hari, disertai plesetan dan jokes. Semaksimal mungkin aku ringkas dan maknanya tersampaikan dengan baik. Apakah mudah dilakukan? Tentu tidak, justru sulit karena aku harus menerjemahkan bahasa kaku yang didapat dari buku, jurnal, skripsi ataupun berita dengan bahasa jurnalistik yang formal. Juga aku harus mengerti bahasa serapan dari daerah lain, plesetan ataupun istilah-istilah yang maknanya jamak/banyak jika itu berkaitan dengan gambar lucu/meme.
Setidaknya kini aku berhasil membedakan diri dengan ayahku yang terlalu formal dan kebarat-baratan dalam menyampaikan disiplin ilmu atau hanya sekedar pengetahuan umum. Ibarat guru dan murid, aku dan ayahku sama sekali memiliki pandangan yang berbeda dalam membuat orang suka membaca. Seperti halnya ayahku yang bersifat memaksa lawan bicara untuk berpikir lebih dengan memberi klue dan mencari tahu sendiri apa yang disampaikan, kemudian aku yang berusaha membuat sederhana semuanya agar orang akhirnya jadi suka membaca, meskipun hanya sekedar caption atau artikel ringan yang ku upload di blog ini.
Satu hal penting, ayahku dan aku memiliki PRINSIP yang menjadi panduan hidup kami. Milikilah prinsip, sehingga hidup jadi terarah dan lebih berarti.

0 Response to "AKU LEBIH SUKA BAHASA SEDERHANA"
Posting Komentar