Masa SMP yang Greget




       Kalian yang sering baca tulisan gue tentunya berasumsi kalo gue terkesan dan sangat kentara bener-bener mencintai masa SMA. Ya, itu benar adanya. Dan lagipula fase hidup itu adalah yang gue alamin terakhir kali sebelum akhirnya mampu duduk di bangku kuliah.

       Kali ini gue akan menceritakan sedikit momen yang berhasil diingat saat bersekolah di tingkat SMP, sebuah tempat transisi dari anak-anak menuju masa remaja. Sudah barang tentu ada banyak sifat kekanak-kanakan yang dilakukan pada masa itu, namun sangat seru dan asyik.

       Gue bersekolah di salah satu SMP yang ada di desa Bagendang Hilir, namanya SMPN 3 Mentaya Hilir Utara. Entah hanya sebuah kebetulan yang tak terduga, pada saat SMP dan SMA gue adalah generasi atau angkatan ke-4. Karena kesamaan angkatan SMP-SMA itu pula gue menamakan blog ini 12IPSEMPAT. Lagipula gue adalah anak ke-2 dari 4 bersaudara, gue sayang sama saudara-saudara gue, banget! Kalo kalian? Silahkan buktikan dengan perbuatan.

       Kembali ke topik utama, gue dulunya berasal dari SDN 1 Bagendang Hilir, itu adalah SD  paling pro menurut gue yang ada di desa Bagendang Hilir. Bangunan sekolah dekat sekali dengan Sungai Mentaya, sehingga anak-anak yang bersekolah ditempat itu mendapatkan masa SD dengan sensasi yang belum tentu dirasakan anak SD lainnya. Sensasi itu dinamakan embun pagi yang menutupi sungai sehingga menciptakan keindahan, udara yang dijamin segar saat masih pagi, pohon-pohon yang ada disekitar situ buat belajar manjat. Lalu yang paling utama adalah sungai itu sendiri buat belajar renang atau “belomba” (berenang sampai lupa waktu).

      Alhamdulillah, gue sangat-sangat bersyukur karena dulu masih sempat “belomba” dengan teman-teman masa SD sehabis pulang sekolah. Itu asyik, sangat-sangat seru. Lagipula dulu buaya tidak dengan ganasnya menghantam manusia, jadi orang tua kami hanya marah-marah karena mata anaknya merah ketika sampai rumah. Jangan ditanya kemampuan kami berenang saat itu, sudah ahli dan pakarnya! - Sedikit melenceng, gue kasihan aja sama anak-anak kota yang tak mencicipi masa kecil seperti kami. Pffft (Ikhsan si Pengolok is back!)

      Kiranya itu sedikit momen SD yang akan memberikan gambaran soal kelakuan gue di SMP. Adalah suatu rezeki yang patut disyukuri karena teman-teman semasa SD lebih dominan milih sekolah yang sama dengan gue. Salah satu keuntungannya kami bisa bersama lagi baik main atau belajar. Ah… teringat lagi momen dimana kami berangkat tiap pagi barengan naik sepeda dengan obrolan apapun yang kiranya berhasil membuat ketawa dan senang.

       Gue lumayan dapet kesan kelas sosial tinggi pas SMP, itu dibuktikan dengan jenis sepeda  yang termasuk pro dan sekali dilihat langsung dipuji “Sepeda kamu bagus san!”. Well, tentunya itu adalah pemberian ayah yang sangat-sangat disenangi sekaligus patut dihargai. Lalu akhirnya  kesenangan itu berubah menjadi lebih ketika dua temen gue Mahmud dan Sasa memiliki sepeda yang persis sama dengan punya gue. Dan jadilah kami sering “konvoi” bertiga karena sepeda yang sama dan baru!!! Asli kerasa banget elegan dan glamournya gan!

       Masa SMP gue sejatinya dihabiskan hanya untuk bermain dan bersenang-senang bersama teman-teman, urusan belajar kebelakangkan saja gan! Yang penting cuma satu kali keluar dari sepuluh besar.. Kiranya gue merasa baik-baik saja tanpa pemberontakan dan kenalakan semasa SMP dulu, namun sekarang malah  menyadari banyak sekali kenakalan yang gue perbuat. Duuh Gusti, hamba dulu nakal sekali.

       Rajin turun ke sekolah adalah prinsip yang gue pegang sejak dari kelas 7 SMP, juga karena faktor mama tercinta yang gak suka anaknya bolos sih. Nah, berbarengan dengan prinsip itu gue punya penyakit dari waktu itu sampai sekarang, yaitu apabila ternyata gak bisa hadir ke sekolah maka keterangan yang pasti tertulis di absen adalah alpa alias bolos hadir. Singkatnya gue hadir serajin-rajinnya lalu menggunakan jatah bolos tanpa keterangan sebijak-bijaknya. Meski sangat bisa menggunakan keterangan atau karena sakit, itu gak bakal gue lakuin.

       Gue gak begitu paham soal OSIS, tapi karena ada kakak kelas yang cantik gabung di organisasi itu maka ada tekad yang kuat buat jadi anggota. Ya, sejak dari kelas 7 SMP gue adalah cowok mata keranjang. Lihat yang bening dikit mata langsung segar dan sehat berkepanjangan. Lagian gue pikir saat itu gabung OSIS adalah langkah mencari pengaruh yang tepat dan legal. Tentunya berhasil dengan mudah menjadi anggota yang numpang nama doang, haha!!! Bodo amat, yang penting mata segar menatap kakak-kakak yang cantik jelita.

       Satu hal yang sangat gue benci pas SMP dulu ketika dihadapkan dengan istilah “pacaran”. Mohon maaf saja, gue lebih milih main dan seru-seruan sama temen-temen. Malah gak ada sama sekali pikiran buat pacaran, mending tidur gan! Ya walau faktanya ada obsesi suka lihat temen atau kakak kelas yang cantik, itu wajar. Bocah SMP tahu apasih soal cinta? Belum lagi kalo jenis bocah kayak gue yang pemalas dan suka mengeluh.

       Menggambar, ya! Itu dia keahlian yang berhasil mengharumkan nama gue satu SMP. Gue suka membacoti kakak kelas, teman sekelas, bahkan adik kelas buat tanding bagus-bagusan menggambar, namun sampai detik ini harapan itu gak pernah terwujud. Lagipula pas SMA ada seorang cewek yang selalu membimbing gue buat berhenti menggambar (dosa katanya), dia cantik, dia manis, suaranya bagus, dia segala sesuatu yang menyenangkan menurut gue, dia Watiah. Dan akhirnya sekarang gue berhenti dari aktivitas gambar menggambar.

      Nah, karena kesukaan dan hobi itulah di SMP ada seorang guru yang tertarik sampai ngasih gelar ICAN (kadang manggil ACAN : Terasi) ke gue. Nama beliau ibu Linda, dan ngajar Seni Budaya di SMP gue saat itu. Jujur aja, ada rasa bangga saat mendapat gelar dari seorang guru. Diberi gelar sama dengan dapet tiket perhatian lebih dari guru, dan faktanya memang begitu.

       SMP gue pada saat itu belum mengalami kemajuan yang signifikan, karena masih baru dan dekat dengan hutan.  Nah, dihutan itulah pusat kesenangan masa ABG dengan teman-teman begitu berkesan dan asyik. Pada saat istirahat atau jam kosong tiba-tiba saja banyak anak-anak SMP terutama dari kelas gue berubah menjadi umat Tarzan.

       Biasanya hal yang dilakukan adalah berkeliling dalam hutan itu demi merasakan sensasi Host Jejak Petualang, apapun yang kiranya bisa dimakan yaaa sikat! Apapun yang kiranya menjadi halangan untuk maju ke depan harus dihancurkan (bocah SMP gblk). Nah, gue sangat suka memanjat pohon demi mendapatkan kesegaran udara yang hakiki sekaligus memantau kakak kelas yang cantik. Teman-teman juga pada ngikut kelakuan tak berguna itu, ya baguslah karena ada pengikut setia nan jenaka.

       Tak lupa di beberapa kesempatan gue dan temen-temen bawa golok buat membabat hutan demi membuat tempat bersantai saat istirahat tiba. So, kalo kalian nanya itu hutan buat dijadiin tempat pacaran yaa mana gue tahu! Gue mah make hutan buat senang-senang sama sahabat doang.

       Ada juga ayunan yang kami buat dalam hutan itu, barang siapa yang ke hutan duluan maka dia berhak menggunakan ayunan, mendapatkan ayunan memang dengan sistem rebutan. Adalah hebat memang kelakuan kami pada saat itu, tali ayunan kami buat menggunakan akar-akar pohon yang dirasa aman kuat dan tahan lama…. Sebuah kesenangan tanpa takut mati atau patah tulang. Belum lagi kalo temen brengsek yang dorong ayunan gak main-main, walau berasa terbang tapi gue takut tot! masih kuingat wajah kalian yang ngerjain dulu.

       Sebenarnya hal itu gue lakuin karena jatah uang jajan yang sedikit, hanya 2 ribu rupiah setiap hari. Ya ketawa gue saat ini, karena uang jajan selalu sedikit dari SMP. Sebenarnya bisa aja nuntut tambahan uang jajan, tapi karena gue suka hidup dalam kesukaran agar terus menjadi motivasi kedepan yaaa lanjut aja gan!. Yang punya uang itu ayah, dan kalo gak dikasih beliau atau mama, gue hanya seorang gembel  tak punya apa-apa. Mohon maaf saja jika kalian berpikir Ikhsan adalah si pengandal harta orang tua, tidak sama sekali. Harta orang tua adalah milik mereka, dan harta gue sampai sekarang masih gak ada. hehe

       Lanjut, di zaman SMP gue dulu ada beberapa kakak kelas dan adik kelas yang sering berseliweran megang hp Cina dengan nyetel lagu tentang cinta. Jujur gue jijik dan timbul rasa ingin membully sekalipun dia kakak kelas yang paling tua. Gue, Andi, dan Ade merupakan sekumpulan siswa yang menyukai lagu barat, terutama karena musiknya enak di denger, kalo artinya mah bodo amat.

       Lalu dengan mereka berdua itu pula gue sering berkeliaran disekolah buat membully adik kelas, tapi markas utama kami menunggu mangsa adalah didepan kelas. Jika sedang beruntung maka seluruh siswa lelaki dikelas kami akan berkumpul bercanda sambil nunggu mangsa buat dihina bersama sampai kami ketawa. Hina menghina adalah hal yang biasa saat itu dilakukan oleh kami semua, yang penting akhirnya tertawa bahagia tanpa memikir perasaan manusia.

      Walau faktanya ada perkumpulan tertentu diantara semua cowok dikelas gue, menghormati satu sama lain dan tidak saling baku hantam adalah kewajiban kami. Dan barang siapa mencoba mengusik kelas kami berarti harus menghadapi kami semua (cielehhh bocah kntot!). Jangan Tanya soal cewek-cewek, mereka ahlinya bentuk geng masing-masing sekaligus ngadain perkelahian antar geng (baca : baku hantam, baku mulut, baku gosip, baku pamer, baku nyindir, baku iri) yang dirasa gak perlu sama sekali. Dasar cewek!!! Udah susah dimengerti, kelakuannya aneh-aneh pula (curhat dulu gan).

       Dulu, sepeda yang bagusan dikit patut diperhatikan dengan jeli oleh tuan pemilik. Alasannya karena ada beberapa siswa biadab yang suka ngerusak atau pake sepeda orang tanpa izin dan permisi. Nah, gue adalah ras yang gak suka baku hantam sekaligus terlibat dalam masalah yang gak berguna sama sekali. Jadi gue, Mahmud, Sasa, Iyan, dan Kasbil segera antisipasi buat parkir ditempatnya kakak Mahmud yang kebetulan deket SMP kami.

       Konsekuensinya kami jadi harus jalan kaki menuju sekolah, dan gue gak habis pikir kenapa sekarang baru sadar kalo ada tingkah kami yang bodoh sekaligus aneh. Ya, kami menuju ke sekolah melewati hutan yang ada disamping sekolah. Kami juga harus melewati bawah bekas kandang ayam yang sudah dipastikan ada potensi terkena kuman atau penyakit apalah itu. Dikatakan juga dihutan ada ular besar, bahkan seringkali monyet menampakan diri sekaligus menghadang jalan kami. Padahal kalo dipikir lewat jalan biasa jaraknya juga sama, haha! Hebat!!!!

       Oh ya, seringkali gue sendirian lewat hutan itu. Dan jujur takut banget sekaligus was-was, kalo kebetulan tewas disitu siapa yang tahu woy! Udah tahu takut masih aja lewat situ, alasannya karena sering ditanyain temen-temen sih. Kalo bilang lewat hutan berasa jantan sekaligus bangga, terkesan seperti hemat waktu karena cepat nyampe. Lalu karena perbuatan itu gue adalah segelintir siswa yang jarang lewat sekaligus menatap Gerbang sekolah. Well, padahal ada pagar kawat loh ketika harus keluar masuk hutan itu, tapi kami lewati seperti agen kelas kakap yang mengendap-endap.

        Kelas 9 adalah momen yang paling gue suka dan paling diingat sampai kapan pun, karena saat-saat itulah yang paling seru dan geblek. Kita semua sepakat kalo kentut sembarangan termasuk perbuatan tabu yang gak baik dilakukan, namun berbeda dengan angkatan kami saat itu. Hampir lupa ngasih tahu kalo kami hanya ada satu kelas, gak dibagi menjadi kelas A dan B atau sejenisnya. Jumlah angkatan kami sedikit, mestinya memang gak perlu dibagi kelas.

       Bagi gue khususnya, kentut sembarangan adalah hal yang wajib dan asyik, gak peduli situasi apapun selama gak ada guru  dan orang tua harus kentut sekencang-kencangnya dengan bau semerbak-merbaknya. Apalagi kalo kentutnya di muka temen adalah suatu prestasi yang wajib diacungi jempol, lalu gue sama temen lainnya musti ngetawain temen korban dikentutin itu. Ketawa gue sekarang inget momen itu. Kentut juga harus pake siasat dan strategi, salah satunya pas duduk ngumpul pura-pura berdiri lalu kentut atau pas temen duduk dilewatin langsung kentut dimukanya. Hahaha! Ngakak coeg.

      Bukan berarti gak ada pembalasan dari temen lainnya, sering malah! Tapi seru dan gak sampe baku hantam apalagi gelut. Kandidat utama beserta gelar mereka dalam dunia perkentutan itu diantaranya Ikhsan (UBUL – Ustadz caBUL, gue dulu sering pake peci), Sasa (Roso), Kasbil (ABI – Abang baBI), Mahmud (Kecemot/NAKU – NAsi KUcing, anak ini sering bawa nasi dengan tempat makan yang kecil seperti tempat makan kucing, akhirnya gue kasih gelar gitu), Iyan (Bacun), Ade (Sapi), Andi (Batu), serta Midi (Kalkun, anak ini ketawa kayak suara kalkun). Mereka sering serang satu sama lain buat duluan ngentutin, namun patut diakui bahwa rajanya seorang Sasa belaka.

Asli ngakak ini pas ngetik karena inget kelakuan kami dulu. Hahahaha!

       Sebagai penutup ada satu hal gila yang mestinya gak usah ditiru atau ditoleransi. Pas SMP etika gue ke temen-temen emang minim dan terkesan kurang ajar. Sekali lagi kita sepakatin aja kalo bersendawa sembarangan apalagi ditempat umum juga termasuk hal yang tabu. Nah, celakanya hal itu gue lakuin hampir setiap hari pas habis makan sesuatu atau kebetulan ingin bersendawa. Kasusnya juga sama seperti kentut itu tadi, bersendawa saat ada temen-temen cewek atau cowok ngumpul dengan sekencang-kencangnya bersama bau yang semerbak-merbaknya. Dan lagi bersendawa dimuka temen juga harus nan wajib dilakukan demi mendapat pengakuan raja bersendawa nomor satu dikelas. Yah, apa mau dikata kalo juaranya hanya gue belaka. Kandidatnya kali ini hanya sedikit, yaitu Ikhsan, Ade dan Andi.

       Bersendawa sembarangan itu akhirnya gue bawa-bawa sampai masuk dan lulus SMA. Tapi karena sering dipelototin cewek gue takut dan berusaha ngurangin walau gak bisa berhenti.

      Gue di SMP jatuh cinta pas kelas 9 dengan adek kelas 8. Dia adalah cinta pertama yang gak bisa gue lupakan sampe sekarang. Namanya…. Tercetak di ingatan gue.

      Sejatinya perpisahan itu menyakitkan, apalagi kalo gak bisa saling kabar-kabaran. Begitulah yang terjadi setelah hari kelulusan gue di SMP. Buat kalian dimanapun berada gue ucapkan rindu yang tak ada habisnya sekalipun kita baru bersua.


Sebenarnya ada kenakalan gue di SMP yang berhubungan dengan cewek, tapi itu adalah aib bagi gue dan malu bagi cewek itu sendiri. So, kita lewatkan aja.

Udahlah, gak usah dibahas tingkat ke-alayan gue pas SMP. Udah rajanya alay coeg.















Masa SMP selesai lalu saatnya masa SMA dimulai….








0 Response to "Masa SMP yang Greget"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel