Setelah Baca Novel Dilan 1990



     Novel ini adalah bukti pertama kalinya saya berhasil membaca sampai habis karya seorang penulis dalam bentuk sebuah buku (bukan Aplikasi, PDF atau Online). Pernah juga baca novel karya Tere Liye dengan judul Bidadari-Bidadari Surga, itu sudah lama sekali, sekitar kelas 11 SMA dalam bentuk aplikasi java. Tapi tentu saja bukan soal novel yang pertama kali saya baca sampai tamat itu yang sedang kita bahas. Ini soal novel yang berisikan Dilan dengan segala perbuatannya yang membuat lelaki iri.

     Jujur, ada perasaan malu dan kikuk setelah selesai membaca buku ini, semacam rasa bersalah pun juga ikut nimbrung. Jika kalian heran kenapa bisa begitu, alasannya begini… Pernah kah kalian menilai seseorang atau sesuatu dengan sewenang-wenang dengan tanpa pertimbangan? Lalu kebenaran terungkap dan penilaian itu ternyata  keliru sama sekali. Bagaimana rasanya? - Setidaknya kejadian seperti itu sudah mewakilkan perasaan saya saat ini.

     Lalu, apakah pantas dilakukan seseorang yang “katanya” penikmat buku tapi malah baru mengenal novel ini melalui filmnya? Lagi-lagi itu sedang saya alami. Dan, sungguh sepak terjang yang aneh pula baru ada keinginan untuk membacanya pada saat menuju hari perilisan film kedua nya, Dilan 1991. Sudah jelas itu juga terjadi pada diri ini.

Ah, kiranya tidak perlu kecewa yang terlalu dalam. Selagi ada keinginan untuk membaca mengapa harus terus menghakimi diri seperti tak ada habisnya?

    Novel ini saya beli bersama teman karib Roby SUPER, lumayan melelahkan juga mencari toko buku yang menjual lengkap ketiga seri buku ini (Dilan 1990, Dilan 1991, Milea). Tentunya buku ini dibeli secara offline. Sekedar info yang mungkin bermanfaat untuk kalian, total ketiga buku harganya 72.000 rupiah. Diluar dugaan  harga tersebut tergolong murah dan cukup bersahabat di kantong mahasiswa. Oh ya, buku ini saya beli di Rumah Buku, Jl. A Yani No. 21 Palangka Raya.

     Disini saya hanya berbagi pengalaman sesudah membaca novel ini saja, jika kalian termasuk tipikal orang yang ingin tahu lebih detail, disarankan untuk membaca novelnya. Namun jika kalian termasuk orang yang ingin tahu garis besar ceritanya saja, pergi tonton filmnya dan nikmatilah.

     Well, saya tidak terlalu pelit memberi tahu bahwa dalam buku ini memiliki inti cerita tentang pertemuan Dilan dan Milea hingga akhirnya mereka “resmi” berpacaran. Demi menikmati perjalanan menuju inti cerita itu pun kalian harus membaca novel atau menonton filmnya. Yaaa, menurut saya  itulah inti dari buku ini, sebuah cerita yang menakjubkan dan tentu saja membuat gemas para pembaca apabila tidak ada kelanjutan dari buku ini.

     Buku ini saya baca sangat telat, bahkan banyak teman-teman cewek yang duluan spoiler cerita tentang buku karya Pidi Baiq ini, walau bagaimanapun ya harus tetap baca demi mengetahui secara keseluruhan isi buku. Dan sudah sangat tepat ketika saya berpendapat ada perbedaan “sajian” versi novel dan film yang diangkat ke layar lebar. Terlepas dari itu semua, membaca bukunya membuat saya puas! Menonton filmnya membuat saya tersenyum lepas!

     Nah, kita akan menyinggung soal Dilan terlebih dahulu dari sudut pandang pribadi saya. Ah! Kesal sebenarnya jika harus membahasnya, Dilan selalu saja mementahkan kenangan masa SMA yang saya agung-agungkan. Dilan akan selalu dan pasti mempunyai cara yang tidak pernah terpikirkan remaja seusianya untuk menarik perhatian cewek yang dia sukai, yang dia cintai. Dilan selalu saja bisa membuat Milea tertawa pada keadaan yang biasa atau tak terduga. “Dilan selalu saja!, “selalu saja mengulangi kata-katanya demi menonjolkan ciri khasnya”.

     Pada novel ini tergambar sosok cowok idaman cewek SMA era 90-an, cowok yang mampu membuat tertawa, membuat bangga, membuat berbagai rasa bahagia dengan cara sederhana, mampu membuat puisi yang pendek namun sarat makna demi cewek pujaannya. Dan tentu saja sosok yang pemberani dan bisa melindungi wanita. Bolehkah saya berpendapat itu adalah yang diinginkan semua wanita saat umur SMA? Ah, tentunya kalian kaum hawa punya jawabannya.

     Lantas, bicara soal Milea yang bagi saya pribadi adalah tipe ideal untuk seorang wanita. Dia punya sifat terbuka, selalu berusaha bersikap menyesuaikan keadaan. Lagipula dia cantik, cowok SMA macam apa yang tidak tertarik pada cewek yang seperti Milea!? Dan lagi, dia punya sifat khas seorang cewek yang akan berubah secara “ajaib dan diluar dugaan” apabila orang yang disukainya terancam bahaya. Ah, rasa-rasanya ada keinginan merebut Milea dari seorang Dilan pada waktu itu. Tapi nyatanya Milea sudah terlalu permanen hanya untuk Dilan.

Ah! Kalah kau Isan!


Membaca novel pertama ini membuat saya seakan bisa “menguasai” dan memahami wanita seperti Milea, atau seluruhnya?

Lalu membaca novel pertama ini juga semacam ada rasa ingin kembali ke SMA untuk meniru Dilan mendekati cewek yang diimpikan hingga akhirnya jadian.

-Palangka Raya, 01-03-2019 – kos kumuh, tapi masih bisa buat tidur memimpikan kamu.

4 Responses to "Setelah Baca Novel Dilan 1990"

  1. Uhukk uhukkk
    (Saya nyimak doang gan!)

    BalasHapus
  2. Terus berkarya my brother. Baca, baca dan terus membaca adalah suatu seni dalam mengolah pemikiran setiap manusia. Banyak baca, maka akan banyak tau. Bang Radit pernah bilang, kalau suka nonton mulailah untuk membuat video, kalau suka membaca mulailah untuk menulis, jadilah pemain bukan penikmat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Okesiap my bro. Dengan tersipu malu kuterima semua masukan darimu. Ku tunggu juga karya hebat mu. Hoho... tapi jangan lupakan kebiasaan ku sebagai penikmat dan pembuat. 😅

      Hapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel